Kembali ke Jelajah Madura

Tokoh · Sumenep

Ratu Tirtonegoro, satu-satunya perempuan yang memerintah Sumenep

Ia naik takhta sesudah pemberontakan Ke' Lesap, memilih seorang penyabit rumput dari Lembung jadi suaminya, lalu menulis wasiat yang menentukan siapa raja Sumenep berikutnya.

Bangunan keraton beratap genteng merah dengan dinding dan tiang kuning pucat, di bawah pohon besar yang rindang
Bangunan di kompleks Keraton Sumenep, Pajagalan. Bangunan keraton yang masih utuh di sini dikerjakan pada masanya dan masa keturunan suaminya. Foto Ivuvisual (CC BY-SA 4.0) lewat Wikimedia Commons.
Gerbang putih Asta Tinggi dengan lengkung di puncaknya dan dinding kuning berbingkai hijau di bawahnya
Gerbang Asta Tinggi. Ia dimakamkan di dalam kompleks ini. Foto Arsha Fathan (CC0) lewat Wikimedia Commons.
Pendapa Agung Keraton Sumenep beratap tumpang berwarna jingga dengan tiang putih dan meja ukir di serambinya
Pendapa Agung, di depan bangunan keraton. Foto Arsha Fathan (CC0) lewat Wikimedia Commons.

Daftar penguasa Sumenep panjangnya lebih dari tiga puluh nama. Satu di antaranya perempuan, dan dialah yang memutuskan siapa yang memerintah Sumenep sampai zaman Belanda.

Ratu sesudah pemberontakan

Namanya Raden Ayu Rasmana, dan sumber lain menulisnya Resman atau Dewi Rasmana. Ayahnya Pangeran Rama, penguasa Sumenep 1678 sampai 1709, dan kakaknya Pangeran Jimat, yang memerintah sesudahnya. Menurut silsilah yang dipegang di Sumenep, garis keluarganya naik sampai ke Ronggosukowati di Pamekasan.

Sekitar 1749 Sumenep diserbu pasukan Ke' Lesap, pemberontak dari Madura barat yang ceritanya kami tulis di halaman Ke' Lesap. Penguasa waktu itu, keponakannya sendiri, melarikan diri. Sesudah keadaan reda, para tetua keraton memilih Rasmana menggantikannya.

Nama Tirtonegoro

Di sini sumber berselisih. Sebagian menyebut Tirtonegoro gelar suami pertamanya, panglima yang gugur melawan Ke' Lesap, dan ia memakai gelar itu sebagai janda. Sebagian lagi menyebut Tirtonegoro gelar yang diberikan kepada suami keduanya. Dua-duanya bisa benar, dan kami tidak memilih.

Penyabit rumput dari Lembung

Yang semua sumber sepakati: ia memilih suami bukan dari kalangan bangsawan. Yang dipilihnya Bindara Saod, guru mengaji yang sehari-hari menyabit rumput untuk ternaknya di Lembung, sekarang masuk Kecamatan Lenteng. Ayahnya kiai dari Batu Ampar di Pamekasan.

Bagaimana ia sampai ke Lembung diceritakan dengan beberapa versi. Ada yang menyebut mimpi yang menyuruhnya menikahi seorang penyabit rumput bernama Bindara Saod. Ada yang menyebut para penyabit rumput dikumpulkan di keraton dan semuanya disuruh pulang kecuali satu. Nama Saod sendiri dijelaskan dari kata Madura saot, yang artinya menjawab, karena menurut ceritanya ia menjawab salam ayahnya dari dalam kandungan.

Pernikahannya pada 1750. Sesudah itu pemerintahan diserahkan kepada suaminya, yang naik dengan gelar Tumenggung Tirtonegoro dan memerintah sampai 1762.

Wasiat yang menentukan

Pasangan itu tidak punya anak. Atas permintaan sang ratu, dua anak Bindara Saod dari istri pertamanya dibawa ke keraton, dan ia mengeluarkan wasiat resmi: yang bungsu, Asirudin, jadi raja sesudah ayahnya.

Asirudin naik pada 1762 sebagai Panembahan Sumolo, yang membangun Masjid Jamik dan keraton yang masih berdiri sekarang. Dari dialah dinasti terakhir Sumenep berjalan, termasuk Sultan Abdurrahman. Jadi garis raja itu bukan garis darah sang ratu. Ia garis yang ia pilih.

Yang perlu kamu tahu sebelum percaya penuh

Kisahnya sebagian besar sampai ke kita lewat babad, catatan keluarga, dan tulisan sejarawan lokal, bukan lewat arsip. Urutannya pun berselisih: ada daftar yang menaruh Ke' Lesap sebagai penguasa Sumenep 1749 sampai 1750 sebelum dia, ada yang menyebut ia sudah bertakhta sejak 1749. Ada juga yang menjulukinya Potre Koneng kedua, mengambil nama putri dalam cerita rakyat Sumenep, dan yang itu memang cerita, bukan sejarah.

Letak makamnya juga disebut berbeda. Satu sumber menyebutnya bersebelahan dengan makam Bindara Saod di Asta Tinggi, sumber lain menyebutnya di kubah yang lain. Yang tidak berselisih: ia dimakamkan di sana, dan orang masih datang.

0811-147-797